Togid, LarissaNews.com – Sangadi Desa Togid, Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Felly Mokoginta, secara resmi membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas dan Praktek Cerdas Indeks Desa Tahun 2025 yang digelar di Aula Pertemuan Kantor Desa Togid pada Kamis malam (12/6/2025).
Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Dinas PMD Kabupaten Boltim, Suzan Nina Emor, SE., pendamping desa Sukriyendi Kolopita, SE., pendamping lokal desa Mudrik Mamonto, jajaran perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta masyarakat yang diundang.

Indeks Desa Membangun (IDM) menjadi topik utama pelatihan ini. IDM adalah instrumen nasional yang digunakan pemerintah untuk mengukur tingkat kemajuan, kemandirian, dan status perkembangan desa di Indonesia. Melalui IDM, desa dapat dikategorikan mulai dari sangat tertinggal hingga mandiri, berdasarkan indikator sosial, ekonomi, serta lingkungan.
Sangadi Felly Mokoginta dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk menata arah pembangunan desa. “Melalui pelatihan ini kita bisa tahu sejauh mana posisi Desa Togid dalam pembangunan. Dengan begitu, langkah-langkah perencanaan bisa lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Suzan Nina Emor yang hadir sebagai pemateri utama menjelaskan materi mengenai Praktek Cerdas Indeks Desa Tahun 2025. Ia menyampaikan bahwa IDM bukan sekadar alat ukur, tetapi juga panduan dalam merancang kebijakan pembangunan desa. “Indeks Desa Membangun adalah instrumen penting agar pembangunan desa tidak stagnan, tapi terus meningkat ke arah desa maju bahkan mandiri,” ungkap Suzan.
Materi tambahan juga disampaikan oleh Sukriyendi Kolopita, yang menekankan pentingnya pengelolaan data desa secara akurat agar skor IDM bisa meningkat. “Data adalah dasar kebijakan. Jika data yang disajikan benar, maka perencanaan pembangunan desa akan lebih efektif dan efisien,” jelasnya.

Sementara itu, Mudrik Mamonto memberikan contoh praktek nyata yang bisa diterapkan desa untuk meningkatkan status IDM. Menurutnya, penguatan ekonomi lokal, pelayanan publik yang baik, hingga partisipasi masyarakat merupakan kunci agar desa bisa naik kelas dalam penilaian IDM.
Acara pelatihan berjalan interaktif dengan sesi diskusi antara perangkat desa, BPD, dan para peserta. Semangat gotong royong dan keinginan untuk membawa Desa Togid lebih maju tampak dari antusiasme peserta dalam menyampaikan pandangan serta gagasan.
Ke depan, hasil dari pelatihan ini diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan tambahan, tetapi juga diimplementasikan langsung dalam program pembangunan Desa Togid. Dengan begitu, target untuk menjadikan desa lebih mandiri dapat tercapai.
“Pelatihan ini menjadi modal penting. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita semua bersama-sama mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat untuk membangun desa kita,” tutup Sangadi Felly Mokoginta. (Advetorial)












